Agnes Monica

Agnes Monica

From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
This stage name does not have a family name. The subject should be referred to as Agnes. For the singer known only as Agnes, see Agnes Carlsson.
Agnes Monica

Agnes Monica performing as a guest star at the Asian Idol in 2007
Background information
Birth name Agnes Monica Muljoto
Born 1 July 1986 (age 26)
Origin Jakarta, Indonesia
Genres Pop, R&B
Occupations Singer-songwriter, actress, dancer, record producer, presenter, fashion designer
Instruments Vocals, piano
Years active 1992–present
Labels Aquarius Musikindo, Sony/ATV Music Publishing
Website www.agnesmonicaofficial.com
Agnes Monica (born Agnes Monica Muljoto; 1 July 1986) is an Indonesian recording artist and actress. Born in Jakarta, Indonesia, she started her career in the entertainment industry at the age of six as a child singer. She has recorded three children's albums which established her as one of Indonesia's most popular child singers in the 1990s. She also became a presenter of several children's television programs. As a teenager, Agnes expanded her career to include acting. Her role in the soap opera Pernikahan Dini rocketed her name into the industry. Following her rising popularity after starring in few series of soap operas, she became the highest-paid teenage artist in Indonesia.
In 2003, she released her fourth studio album And the Story Goes, which marked her transition from a child singer to a female artist. On her fifth studio album, Whaddup A.. '?! (2005), she collaborated with American R&B singer Keith Martin. She also appeared in two Taiwanese drama series, The Hospital and Romance In the White House. She participated in the 2008 and 2009 Asia Song Festival in Seoul, South Korea, and received "Best Asian Artist Award" at each event. Agnes took creative control of her sixth studio album, Sacredly Agnezious (2009), for which she served as the producer and songwriter. In 2010, she was appointed as one of the judges on the talent show Indonesian Idol and was also one of the international hosts of the red carpet at the American Music Awards of 2010 in Los Angeles.
In addition to her commercial success, Agnes is the most-awarded Indonesian singer. She has received numerous awards, including ten Anugerah Musik Indonesia awards, seven Panasonic Awards, and four MTV Indonesia Awards. She was also honored with a Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) from the Indonesian Ministry of Culture and Tourism and the Singers, Songwriters, and Music Record Producers Association of Indonesia (PAPPRI) for her contribution and support for the Indonesian music industry.[1] She was also appointed as an anti-drug ambassador of Asia, and as the ambassador of MTV EXIT to combat human trafficking.
Throughout her career, she has often been controversial in Indonesia. When she was a teenager, her frequent comments about her goal to break into the international market was viewed by some as a pompous proclamation. In 2010, however, she signed with Sony/ATV Music Publishing and began work on a debut English studio album. Consequently, her slogan "Dream, Believe, and Make it Happen" was used in a 2011 cultural conference to inspire young people organized by the US Embassy in Jakarta.[2]

2028: Akhir Dunia?


"Tidak ada yang radikal tentang hal yang kita bicarakan," tutur jurnalis dan aktivis perubahan iklim Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles kemarin malam. "Orang yang radikal bekerja untuk perusahaan minyak."

Pernyataan seperti itu mungkin terdengar berlebihan bagi kebanyakan orang Amerika. Namun, siapa pun yang mengikuti penuh kuliah McKibben akan tahu dia tidak berlebihan.

McKibben berada di Los Angeles sebagai bagian dari tur nasionalnya, "Do the Math". Berdasarkan artikel terbarunya di Rolling Stone, ("Dengan Justin Bieber sebagai model sampulnya," canda McKibben) acara itu pada dasarnya adalah sebuah rangkaian kuliah yang didasarkan pada premis tunggal: perubahan iklim adalah matematika sederhana — dan hasil perhitungan tidak terlihat baik. Jika para pemimpin dunia tidak segera mengambil tindakan: "Planet ini akan hancur."

Matematika iklim, McKibben menjelaskan, bekerja seperti ini. Pemimpin dunia baru-baru ini mencapai suatu perjanjian internasional yang didasarkan pada pemahaman ilmiah bahwa kenaikan suhu global 2 derajat Celsius akan menimbulkan bencana bagi masa depan umat manusia.

Untuk mencapai temperatur global yang mengkhawatirkan itu, bumi melepaskan 565 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Inilah masalahnya: perusahaan bahan bakar fosil saat ini memiliki 2.795 gigaton karbon dioksida dalam cadangan bahan bakar mereka — dan bisnis mereka tergantung pada bahan bakar yang dipasarkan dan digunakan. Pada tingkat konsumsi saat ini, dunia akan melewati ambang batas 565 gigaton dalam waktu 16 tahun.

Untuk mencegah kiamat, industri yang paling menguntungkan dalam sejarah umat manusia justru perlu ditutup.

"Malam ini," kata McKibben, "kita akan mencecar industri bahan bakar fosil."

Bukan hal yang mudah. Industri minyak memberikan keuntungan tahunan sebesar $137 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dan kekuasaan politik. McKibben mencatat, "perusahaan minyak patuh hukum karena mereka bisa mendikte hukum."

Namun, ada beberapa angka yang menguntungkan McKibben. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 74 persen orang Amerika sekarang percaya pada perubahan iklim, dan 68 persen menganggap itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Masalah yang dihadapi aktivis lingkungan adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka itu menjadi tindakan nyata.

Munculah  "Do the Math."

Menggunakan popularitas McKibben sebagai seorang penulis, kegiatan kuliah diubah menjadi mesin politik. Sebelum mengadakan kuliah umum, Do the Math dengan cerdas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lingkungan setempat. Sebelum perkuliahan McKibben dimulai, kelompok-kelompok ini diperbolehkan naik ke atas panggung dan berbicara tentang isu-isu setempat yang perlu diperjuangkan.

Informasi kontak dikumpulkan untuk menjaga penonton selalu mengetahui upaya terbaru tentang isu-isu tersebut. Para penonton ternyata tidak hanya menjadi pendengar kuliah McKibben, mereka tiba-tiba menjadi bagian dari gerakan lokal lingkungan mereka.

Ini adalah strategi cerdas, dan penting — karena masalah perubahan iklim hampir secara eksklusif bersifat politis. Antara energi yang dapat diperbaharui dan teknik yang lebih efisien, teknologi sudah ada untuk mencegah bencana pemanasan global.

Meskipun penerapannya di Amerika Serikat masih tertinggal, teknologi itu sedang digunakan dalam skala massal di negara-negara lain. Di Cina dengan populasi miliaran dan kesenjangan kekayaan yang luar biasa, 25 persen negara itu masih menggunakan panel surya untuk memanaskan air. Jerman — negara dengan perekonomian kuat di Eropa — selama hampir satu dekade, berhasil mendapatkan setengah energi dari sumber yang berkelanjutan.

Hal yang sama bisa terjadi di Amerika asalkan negara itu memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Menurut McKibben, kunci untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memerangi industri bahan bakar fosil dari akarnya.

Untuk memulainya, dia menyerukan pembebasan global dari perusahaan bahan bakar fosil. "Kami meminta orang-orang yang percaya pada masalah perubahan iklim untuk menghentikan mencari nafkah dari itu. Sama seperti dengan gerakan pembebasan apartheid di Afrika Selatan, kita harus mengeliminasi perusahaan minyak yang dianggap terhormat. "

Melanjutkan aksi protes terhadap proyek-proyek energi yang tidak berkelanjutan juga akan sangat penting. McKibben akan berada di Washington, D.C. pada 18 November untuk memimpin unjuk rasa menentang perubahan iklim dan Keystone Pipeline. "Kita tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa Presiden Obama akan melakukan segala yang dijanjikannya selama kampanye. Kita perlu mendorongnya. "

"Saya tidak tahu apakah kita akan menang. Namun, saya tahu kita akan berjuang.”